0
BIKES

Apa Beda Klub HDCI, HOG dan MBC? Ini Kata Kabid Touring HDCI Surabaya

January 31, 2020

iamautomodified.com, SURABAYA – Harley Davidson Club Indonesia alias HDCI merupakan sebuah organisasi/wadah yang resmi terdaftar di Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), dan juga satu-satunya organisasi yang saat ini memiliki 64 Pengurus Cabang (pengcab) di Indonesia serta 3 pengcab di luar negeri seperti Middle East, Eropa dan USA.

Misalkan Pengurus Daerah (pengda) Jawa Timur membawahi pengcab Surabaya, Sidoarjo, Madiun, Kediri dan Malang. Kalau DKI lebih dipecah lagi seperti Timur, Barat, Pusat, Selatan dan Utara, memiliki Pengcab masing-masing, demikian seperti dijelaskan Indra Irawan, Chief Operating Officer (COO) HOBIS Motor, saat disambangi IAM pada Kamis 30 Januari 2020.

Yang membedakan antara HDCI dengan klub Harley lainnya seperti HOG (Harley Owner Group) yaitu marketing toolsnya dealer. Jadi, kata Indra, konsumen yang membeli motor Harley di dealer, otomatis dia sudah menjadi member HOG. Itu salah satu benefit yang ditawarkan untuk bisa menikmati kendaraan bersama member lainnya.

“Jadi, setiap dealer punya HOG masing-masing. Seluruh produk yang ada dealernya, pasti member HOG ada, baik di Indonesia maupun Internasional. Sementara MBC (Motor Besar Club) itu merupakan wadah dari beberapa merek motor besar yang ikut serta di dalamnya,” jelas pria yang akrab disapa Indra Tattoo ini.

Tetapi karena Ketua Umum HDCI, Pak Nanan Sukarna juga sudah menginstruksikan bahwa HDCI ini bukan klub yang eksklusif tapi lebih ke inklusif. Jadi brand selain Harley Davidson bisa gabung juga di HDCI. “Hanya saja pengurusnya harus menggunakan Harley, kalau anggotanya bebas memakai motor selain Harley,” ujarnya.

Tak ada biaya registrasi untuk gabung di klub HDCI. Hanya saja, setiap member wajib membayar iuran sebesar Rp. 2 juta pertahun dengan benefit PIN anggota, jaket, serta ada pelatihan safety riding setahun sekali.

Untuk saat ini, HDCI Surabaya sudah berhasil merangkul sebanyak 250 member, mulai dari kaum milenial sampai orangtua. Untuk kaum milenial, syaratnya harus memiliki SIM dan memiliki STNK.

Di wilayah Surabaya ini, HDCI termasuk member yang paling aktif turing serta memiliki kegiatan yang paling padat se-Indonesia. Surabaya ini termasuk nomor 3 nya lah, kata Indra, kalau Jakarta agak kurang. Alasannya, karena kondisi lalu lintas di DKI Jakarta itu sangat padat. Jadi untuk mobile di Jakarta itu agak sedikit sulit.

“Contohnya, jika mereka ingin turing, misal ke Solo atau Surabaya. Jam 4 subuh itu mereka harus sudah berangkat semua. Karena kalau lewat dari jam tersebut sudah stag di jalan. Pulangnya juga sama gak mungkin Finish sampai situ. Bandung lewat dikit juga setop mereka, motor sudah digendong semua,” kata pria yang juga selaku Kepala Bidang (kabid) Touring HDCI Surabaya.

Indra juga mengklaim bahwa dirinya sempat melakukan riding muali dari ujung Aceh sampai NTT. Untuk luar negeri seperti Selandia Baru, Amerika dan Eropa juga sudah dijajakinya. Bahkan Ketua HDCI Surabaya juga pernah melakukan riding ke Maroko dan Afrika.

Jika bicara menyoal bakti sosial (baksos), HDCI Surabaya memiliki jadwal rutin dua bulan sekali. Di bulan Desember 2019 lalu, ada dua agenda baksos yang telah dilakukan yakni memberangkatkan umroh untuk 5 orang Marbot Masjid.

“Kemudian juga di tanggal 23 Desember 2019 lalu kita sempat mendonasikan bantuan ke berbagai Panti Asuhan, mendirikan sarana ibadah dan membantu anak-anak yatim-piatu. Kalau untuk sarana ibadah, semua umat sebisa mungkin kita bantu. Jadi, member kita ini agamanya berbeda-beda, semua sarana ibadah tetap kita bantu,” ungkap Indra.

Untuk baksos di HDCI ada Kepala Bidang (kabid) nya sendiri, dia yang mengatur serta mengagendakan agar semua lini bisa dicapai.

No Comments

    Leave a Reply