Tak Hanya Sekadar Jantan, Kijang Rider ini Dibuat Nyaman di ‘Dua Alam’

iamautomodified.com, PALEMBANG – Para penggemar Kijang Rider boleh berbangga hati, lantaran masih terdapat beberapa penggila modifikasi yang melestarikan mobil tersebut. Seperti pada mobil yang ditampilkan Fredy Purba di ajang IAM MBtech Palembang 2019 ini.
Selaku penggemar adventure, Fredy memanfaatkan Kijang tersebut untuk dijadikan sebuah mobil offroad bersegmen 4×2. Tampilan secara menyeluruh nampak memenuhi syarat sebagai mobil pelibas jalur ‘dua alam’, yakni perkotaan dan pedesaan.
Penampilan Kijang ini, tak lagi disebut sebagai ‘Jantan’ tapi lebih dari itu bahkan boleh dibilang buas dan liar. Tengok saja tampilan mobil ini mulai dari depan, sisi-sisi hingga bagian buritan yang dijejali oleh perangkat kastem adventure.
“Mobil ini sebetulnya arah konsepnya ke fun road. Karena sering digunakan buat turing, saya tambahkan roofrack yang sudah dikastem. Roofrack itu bisa muat barang banyak dengan kapasitas bebannya bisa sampai 100 Kg lebih,” jelas Fredy Purba.
Pria asal Jambi ini juga menjelaskan, pada bagian bemper depan dan belakang saya pakai plat yang dikastem menyesuaikan bodi, ditambah dengan perangkat wins untuk towing yang tersambung melalui remote control.

“Untuk penempatan ban serep belakang, lubangnya sudah saya sesuaikan dan pakai Escudo jadi lubangnya ada lima. Tapi kalau pintu belakangnya masih orsinil buka full. Untuk safety tangki saya gunakan plat tebal agar jika menghadapi kondisi jalan yang rusak tangki gak gampang cacat,” paparnya.
Sebagai penunjang kendaraan adventure, Fredy juga memperkuat di sektor kaki-kaki. Kalau untuk shock breaker Fredy masih mempercayai Shock bawaan Kijang, karena masih cukup kuat. Untuk peleknya, pakai punya Taff. Karena lubang bautnya ada lima, jadi saya gunakan adaptor.
“Kalau Kijang baut peleknya kan lubang empat, maka saya pakai adaptor. Untuk menyesuaikan tampilan bannya saya pakai Komodo Ekstreme ukuran 29. Karena ini ban pakai nitrogen jadi lebih ringan, ditambah lagi pakai pelek kaleng makin ringan, kalau melibas kecepatan tinggi gak ada kendala,” tandasnya.
Lanjut ke sektor mesin, Kijang Rider buatan 1996 ini memiliki mesin edisi terakhir 7K dengan kapasitas 1.800cc. Bicara soal kelebihannya, mesin tersebut cukup nyaman serta agresif.
“Itu karena Kijang Rider ini lebih short (pendek). Mesin ber cc besar lalu pendek itu jauh lebih lincah, beda dengan Kijang yang Grand yang bentuknya panjang (long). Saya cuma ganti ati ayam, dengan model clurit itu membuat pengapiannya jadi lebih cepat. Terus penambahan aki kering Global yang 100 ampere,” terang Fredy.
Mobil ini juga, katanya, sudah terkoneksi dengan sistem Immobilizer. Jadi bisa menghidupkan-mematikan melalui remote control. “Kunci bawaan hanya untuk membuka tangki, jika dilakukan manual mesti pijak rem dulu baru start, karena remnya sudah dilengkapi dengan sensor.

Menurut Fredy, Kijang Rider ini merupakan Kijang dengan tipe limited edition. Jadi masih ada beberapa part yang masih orisnil, seperti ban serep di bagian belakang asli, panel, centrallock, lampu-lampu serta power window berfungsi semua.
“Saya bangun mobil ini sudah hampir 3 bulan dengan menyiapkan budget lebih-kurang Rp 60 jutaan. Tapi semua bisa dihandle, namun pengerjaan terlama di sektor audio serta interior,” jelas Fredy.
Kalau untuk sistem audio, kata Fredy, untuk headunit nya menggunakan Pioneer kemudian ditambah 2 buah subwoofer ADS ditambah 8 buah speaker Pioneer dan Venom jadi membuat nyaman saat berada di jalan maupun di hutan.
“Selain itu, saya juga tambahin power kapasitor, kamera mundur, 2 buah monitor TV headrest lalu kulkas serta pembuatan minibar. Kijang ini sudah saya bawa kemana-mana, bahkan ke Jakarta sudah saya ajak turing, cukup nyaman lah,” ujar pria yang tergabung dalam Paguyuban Altomania ini.
Terjun di Indonesia Automodified ini, kata Fredy baru pertama kali. Tapi kalau event modifikasi lainnya Fredy sempat menjadi juara 1 kategori exelent interior. Kemudian event JAC Jambi dapat tropi Best alto.