Mitsubishi Fuso Pasok 20 Ribu Unit Truk untuk Proyek Koperasi Desa, Produksi Sempat Terganggu
iamautomodified.com, JAKARTA – Mitsubishi Fuso memastikan keterlibatannya dalam proyek besar pengadaan kendaraan untuk Koperasi Desa Merah Putih (RAK UTI) dengan total kebutuhan mencapai sekitar 20.600 unit hingga akhir 2026. Proyek ini menjadi salah satu pendorong utama pasar kendaraan komersial tahun ini, meski sempat berdampak pada distribusi ke konsumen umum.
Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, mengatakan Mitsubishi Fuso menjadi salah satu merek yang dipercaya untuk memasok kendaraan dalam proyek tersebut.
“Benar, kami dipercaya untuk berpartisipasi dalam pengadaan proyek operasional RAK UTI. Jumlahnya sekitar 20.600 unit sampai dengan Desember 2026,” ujar Aji, di sela-sela press conference Mitsubishi Fuso, di GIIMCOVEC, Rabu (8/4).
Ia menjelaskan, seluruh unit yang disuplai merupakan varian Canter, yang diproduksi secara lokal di fasilitas perakitan Mitsubishi Fuso di Cakung, Jakarta Timur. Produksi ini juga melibatkan berbagai vendor dalam negeri yang telah menjadi bagian dari rantai pasok selama puluhan tahun.

“Seluruh Canter dan truk yang kami jual di Indonesia saat ini diproduksi di dalam negeri, dengan melibatkan banyak vendor lokal. Selama 55 tahun, kami juga telah berinvestasi dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” katanya.
Distribusi Bertahap, Sempat Ganggu Pasar Retail
Besarnya volume proyek sempat membuat distribusi ke konsumen retail dan fleet terganggu pada awal tahun. KTB mengakui harus melakukan penyesuaian produksi untuk memenuhi komitmen terhadap proyek pemerintah tersebut.
“Pada tahap awal memang ada beberapa konsumen yang harus menunggu, karena kami fokus memenuhi komitmen proyek yang besar. Tapi secara bertahap kami sudah menormalkan kembali produksi,” jelas Aji.
Ia menargetkan, mulai April 2026, pasokan unit baik untuk proyek maupun pasar umum sudah kembali stabil. “Mulai April ini kami sudah kembali normal. Artinya, kami bisa memenuhi kebutuhan proyek sekaligus pasar retail dan fleet,” tambahnya.
Hingga Maret 2026, KTB telah menyalurkan sekitar 2.500–2.600 unit ke jaringan dealer untuk kemudian diteruskan kepada pihak Agrinas sebagai pelaksana proyek.
Waspadai Kenaikan Bahan Baku dan Geopolitik
Di tengah proyek besar tersebut, industri otomotif juga dihadapkan pada potensi kenaikan harga bahan baku, termasuk plastik, seiring dinamika global dan geopolitik.
Aji mengakui dampaknya belum terasa signifikan saat ini, namun berpotensi memengaruhi industri dalam jangka panjang.
“Kalau melihat situasi global, isu geopolitik bisa berdampak pada harga material. Saat ini belum terlalu terasa, tapi kalau berlanjut tentu akan berpengaruh,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, KTB memperkuat komunikasi dengan prinsipal di Jepang untuk menjaga kelancaran pasokan komponen.
“Kami terus berkomunikasi intens dengan prinsipal untuk memastikan supply part tetap terjaga agar produksi berjalan sesuai rencana,” katanya.
Pasar 2026 Diproyeksi Tumbuh, Tapi Tetap Waspada
Untuk pasar kendaraan komersial 2026, KTB awalnya memproyeksikan pertumbuhan tipis dibanding 2025, didorong sektor logistik, manufaktur, dan infrastruktur.
Namun, Aji mengingatkan adanya ketidakpastian global yang dapat memengaruhi permintaan.
“Kami sempat optimistis pasar 2026 sedikit lebih baik dari 2025, apalagi dengan adanya proyek pemerintah. Tapi kami tetap harus hati-hati karena kondisi geopolitik bisa berdampak ke aktivitas bisnis dan permintaan kendaraan komersial,” ungkapnya.
Tunggu Hasil Uji B50
Terkait rencana pemerintah menerapkan bahan bakar biodiesel B50 mulai Juli 2026, Mitsubishi Fuso masih menunggu hasil akhir uji jalan (road test) yang tengah berlangsung.
“Saat ini road test sudah berjalan sekitar 40.000 km, dengan target 50.000 km. Kami masih menunggu hasil evaluasi akhirnya sebelum implementasi,” kata Aji.
Menurutnya, hasil uji tersebut akan menjadi acuan penting bagi pabrikan dalam memastikan kesiapan mesin terhadap penggunaan bahan bakar baru tersebut.
“Kami perlu melihat hasil finalnya untuk memastikan dampaknya terhadap performa dan operasional kendaraan,” tutupnya.