0
NEWSFLASH

Organisasi Gagak Ireng Dukung Upaya Perkembangan Otomotif dan Modifikasi di Kota Gresik

October 28, 2020

Markasim Halim Widianto, Ketua Organisasi Gagak Ireng alias Ogie’r Gresik (sumber foto : istimewa)

iamautomodified.com, GRESIK – Bagi sebagian orang tentu percaya bahwa Mitos dari Gagak Hitam merupakan sebuah ‘pertanda’. Budaya Pertanda ini dapat diimplikasikan pada suatu hal yang positif. Misalnya, pada saat melihat orang lain dalam kesulitan serta membutuhkan pertolongan, maka itu jadi sebuah ‘pertanda’ bahwa ada yang mesti dibantu.

Setidaknya, hal inilah yang menjadi visi dan misi dan termaktub dalam Organisasi Gagak Ireng alias Ogie’r. Sebuah wadah pecinta sosialita yang selalu mendukung berbagai kegiatan yang bersifat positif terutama di bidang otomotif, Ogie’r selalu tampil membuka jalan seraya memudahkan pergerakannya.

“Gagak Hitam merupakan sebuah burung yang dikenal setia kawan, kesetiaannya tak perlu diragukan lagi. Bahkan makhluk ini juga diketahui sebagai burung pemantau. Filosofi inilah yang kemudian kita ambil, lalu kita aplikasikan ke dalam kehidupan kami sehari-hari,” tutur Markasim Halim Widianto, salah seorang penggagas sekaligus Ketua Umum Organisasi Gagak Ireng (Ogie’r), saat disambangi di markasnya, Selasa malam 27 Oktober 2020.

Organisasi Gagak Ireng dideklarasikan pada tanggal 7 July 1985 silam. Klub ini diprakarsai oleh 4 orang yaitu Markasim Halim Widianto, Andi Mahmud, Zen, serta Rudy. Mereka merupakan pencetus berdirinya wadah tersebut, dan keempat orang itu amat sohor dan merupakan orang-orang yang sukses di bidangnya.

Salah satunya ada yang memiliki pabrik sarung ternama, lalu ada pegawai Wilmar, ada yang berprofesi sebagai Kontraktor dan juga seorang Legislatif. Klub ini terus berkembang dan sudah berhasil merangkul anggota sekitar 250 member yang kini tersebar di seluruh wilayah Nusantara dan negara tetangga.

Pada awalnya Ogie’r merupakan sebuah kelompok belajar. Namun, seiring berjalannya waktu Ogie’r menjadi sebuah klub otomotif yang kerap mengutamakan aksi sosial. Berbicara menyoal Bakti Sosial, setiap bulannya klub Ogie’r selalu rutin mengunjungi fakir miskin dan anak-anak yatim terutama di wilayah Gresik.

Klub Ogie’r selalu keliling kota Gresik, untuk bersosialisasi dengan pejabat setempat untuk mengetahui wilayah serta mengunjungi warga yang sangat membutuhkan uluran tangan. Tak terkecuali, jika terdapat salah satu wilayah yang tertimpa bencana alam.

Sosialisasi, kata Cak Mar, tak hanya dilakukan di satu tempat, Ogie’r juga kerap menggelar trip/touring ke sebuah wilayah tertentu. Kemudian, jika di tengah perjalanan ada sebuah desa yang membutuhkan uluran tangan, spontan mereka berhenti sekaligus menggelar bakti sosial (baksos). Dimanapun lokasinya, jika tingkat kehidupan dan perekonomianya masih di bawah, mereka berhenti dan memberikan bantuan donasi.

“Inilah kenapa 70 persennya kita bergerak di bidang sosial dan 30 persen di bidang otomotif, karena disini teman-teman umurnya sudah pada sepuh makanya di sosial ini yang tetap kita utamakan terlebih dahulu,” jelas pria paruh baya yang akrab disapa cak Mar ini.

Cak Mar juga menuturkan, jika terdapat beberapa teman dari luar kota, baik dari organisasi IMI ataupun IOF, yang ingin mengadakan kegiatan otomotif di Gresik, selalu mereka dukung dan memudahkan jalan.

“Karena otomotif merupakan salah satu aktivitas serta hobi yang bersifat positif dari berbagai kalangan dan usia, bahkan mampu menghilangkan kebiasaan yang bersifat negatif. Dan itu tetap harus berjalan karena memang hobi kita, jiwa dan raga kita di otomotif ini. Bahkan yang memiliki Pondok Pesantren pun disini menggemari otomotif,” tegas Cak Mar.

Sejak berdirinya Ogie’r hingga kini, Cak Mar masih diberikan amanat untuk tetap menjadi Ketua Umum. Bahkan, kata dia, sampai saat ini tidak ada yang mau dan tetap menghendaki dirinya selaku Ketum.

“Kenapa hingga saat ini Ogie’r masih tetap solid?, hal itu karena hati. Karena, organisasi ini bukan sebuah spesifikasi kendaraan (mobil/motor) ataupun perkakas yang kita kedepankan, tapi kita memanusiakan manusia. Hal itulah yang membuat kami masih tetap berjalan hingga saat ini,” papar Cak Mar.

Klub Ogie’r tak hanya diisi oleh segelintir orang, bahkan mulai dari anak SMA sampai yang sudah memiliki cucu (sepuh) masih mengidolakan Klub Ogie’r. “Dari yang tua sampai yang muda, dari yang duitnya tak berseri sampai yang sederhana, semua bernaung dalam sebuah wadah Organisasi Gagak Ireng,” tandasnya.

“Alhamdulillah hingga di usianya yang ke-35 tahun, Ogie’r masih tetap bertahan. Karena yang kita nilai persaudaraan bukan pertemanan, karena persaudaraan nilainya lebih tinggi. Bahkan di moment-moment tertentu, anak dan istri mereka kita libatkan dan kita kumpulkan, jadi mereka bisa bersilaturahmi. Akhirnya mereka mengetahui bahwa organisasi ini bersifat kekeluargaan,” ungkap Cak Mar.

Tak hanya itu, setiap sebulan sekali mereka rutin menghadiri aktivitas religi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren, yang kebetulan pemangku Pondok tersebut merupakan salah seorang member Klub Ogie’r.

Nah, bagi yang ingin bergabung dalam Organisasi Gagak Ireng, persyaratannya cukup mudah koq dan nggak ‘njlimet’, karena klub ini amat berbeda dari organisasi otomotif lainnya yang mengutamakan formulir dan registrasi.

“Sebab kalau itu jadi patokan, nantinya dia tidak akan bersosialisasi secara hati. Tapi disini, dia akan diterima jadi anggota Ogie’r asalkan dirinya sering beradaptasi, sosialisasi, ketemu dengan teman-teman. Kalau udah klik, Insya Allah nanti akan menjadi anggota secara tidak langsung,” kata Cak Mar.

Di akhir masa 2020 ini, Cak Mar berharap semoga wabah pandemi ini segera berakhir, sehingga seluruh aktivitas rutin dapat kembali normal seperti semula. Meski demikian, kata Cak Mar, aktivitas Otomotif tetap harus berjalan. Karena ini merupakan salah satu kegiatan yang sanggup menghilangkan kebiasaan negatif.

“Saya juga berharap kita akan semakin solid dan semakin bisa berbuat banyak ke masyarakat. Harapan saya juga kepada media-media otomotif lain kiranya dapat membantu melancarkan pergerakan otomotif, supaya perekonomian bisa berjalan dengan baik. Tentunya melalui kegiatan-kegiatan seperti pameran, kontes modifikasi sehingga bisa melahirkan bibit-bibit muda yang cerdas dan positif,” ungkap dia.

Sekilas tentang Markasim Halim Widianto

Pria ramah dengan gayanya yang khas serta low profile ini merupakan salah seorang tokoh sosialis yang sangat bijak dalam menyikapi persoalan. Beliau amat pro aktif dan mendukung upaya pergerakan yang bersifat positif terutama di dunia otomotif.

Di awal karirnya, beliau sempat memiliki bidang usaha otomotif yang diklaim pertama kali di kota Gresik yakni sekira tahun 90-an. Kemudian, beliau diusung oleh salah satu Partai terbesar di Indonesia dan menjadi anggota legislatif.

Kecintaannya terhadap dunia otomotif telah dirasakan sejak beliau duduk di bangku SMP dan sempat terjun di kejuaraan Motorcros. Beranjak dewasa, tepatnya di SMA kelas 3, beliau juga pernah bermain Drag Race dan kemudian menggemari olahraga off-road.

Pasalnya, beliau merupakan penggagas off-road pertama di Gresik, sampai teman-temannya berhasil menjadi juara nasional. Salah seorang tokoh di bidang off-road, mas Yuma kerap berkomunikasi dengannya dan selalu hadir di Gresik untuk menggelar perjalanan. Salah satu kendaraan bersegmen off-road yang dimiliki beliau adalah Jimny Serra, sementara yang lain hanya dimodifikasi ringan untuk aktivitas harian.

Namun, terlepas dari itu beliau berpesan bahwa siapapun orangnya apapun jabatannya tidak akan membawa dampak apa-apa, karena otomotif merupakan sebuah hobi. Tapi dengan keberadaan wadah organisasi yang dimilikinya bisa membantu masyarakat di bidang otomotif.

No Comments

    Leave a Reply