Kupas Tuntas Dinamika EV di Indonesia, Populix dan FORWOT Hadirkan Data dan Insight dari Pelaku Industri
iamautomodified.com, JAKARTA – Populix, perusahaan riset berbasis teknologi, bekerja sama dengan Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) menggelar diskusi panel bertema strategi dan tantangan industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Digelar Selasa (1/7) di Dailah Sajian Nusantara, Jakarta Selatan, forum ini menghadirkan pembicara dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari produsen kendaraan, lembaga riset, hingga pengamat industri.
Menghadirkan narasumber dari BYD Indonesia (segmen mobil listrik), ALVA (sepeda motor listrik), serta National Battery Research Institute (NBRI), diskusi ini membedah berbagai aspek mulai dari dinamika pasar, respon konsumen, hingga kesiapan ekosistem kendaraan listrik di tanah air.
Menurut Susan Adi Putra, Associate Head of Research for Automotive Populix, pasar EV Indonesia kini berkembang pesat dan telah dikategorikan sebagai “Emerging EV Market”. Namun, pertumbuhan ini tidak lepas dari berbagai tantangan.
“Meski sudah diperkenalkan sejak awal 2010-an, adopsi kendaraan listrik masih menghadapi hambatan, khususnya dari sisi pelayanan purna jual,” ujar Susan.
Populix mencatat, minimnya bengkel servis kendaraan listrik menjadi penghalang utama. Banyak bengkel belum menerima layanan EV, bahkan untuk permasalahan non-kelistrikan. Hal ini berimbas pada rasa ragu konsumen untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan tersebut.
Menanggapi hal ini, William Kusuma, Head of CEO Office ALVA, menjelaskan langkah konkret perusahaannya.

“ALVA menjalin kerja sama dengan bengkel-bengkel lokal di sekitar jaringan dealer kami. Setidaknya setiap dealer didukung oleh empat bengkel rekanan yang siap menangani EV. Sampai saat ini, sudah ada 46 bengkel di bawah jaringan kami yang melayani servis kendaraan listrik,” jelas William.
Hambatan kedua terbesar, menurut data Populix, adalah terbatasnya akses ke Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Sebanyak 63% pengguna mobil listrik dan 29% pengguna motor listrik mengandalkan SPKLU untuk pengisian daya karena dianggap lebih cepat daripada mengisi di rumah.
Isu lain yang juga mencuat adalah kebutuhan akan standarisasi baterai. Menurut Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, pendiri NBRI, interoperabilitas menjadi kunci percepatan adopsi EV di Indonesia.
“Hingga kini, desain dan sistem pengisian baterai masih eksklusif antar merek. Tanpa standardisasi, pengguna akan kesulitan mengisi daya di luar jaringan mereka. Jika baterai dan charger distandarisasi, maka ekosistem EV akan jauh lebih inklusif dan efisien,” tegas Prof. Evvy.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya regulasi keamanan baterai. Meski SNI 8872 telah diterbitkan sejak 2019 untuk mengatur standar keselamatan baterai, implementasinya masih belum diwajibkan oleh pemerintah. Padahal, ini menyangkut perlindungan konsumen secara langsung.
Diskusi yang dihadiri berbagai pelaku industri otomotif ini diharapkan dapat mendorong perumusan kebijakan dan inovasi yang lebih konkret dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional.
“Dengan mendorong sinergi seluruh pihak, adopsi kendaraan listrik tidak hanya mendukung pertumbuhan industri otomotif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kolektif mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” pungkas Susan.